HILANGNYA SEPATU ZAHRA
BAB 1
“ KAK .... sepatu aku mana ?
teriakan seorang gadis yang kini tengah bersiap- siap untuk berangkat sekolah.
Ya.. dia adalah Zahra, yang sekarang duduk dikelas 3 sekolah dasar.
Zahra mempunyai seorang kakak yang bernama Zahwa yang sekarang duduk di kelas 5 sekolah dasar.
Zahwa dan Zahra adalah dua orang bersaudara yang yatim piatu. Mereka kehilangan kedua orang tuanya satu tahun yang lalu, pada saat zahwa duduk di kelas 4 sekolah dasar sementara Zahra baru duduk di kelas 2 Sekolah dasar.
Sungguh malang nasib mereka pada saat kecelakaan itu terjadi. Pada saat mereka seharusnya mendapatkan kehidupan yang layak meskipun baru saja kehilangan kedua orang tuanya, namun sifat iri saudara ibu nya malah membuat hidup mereka menggenaskan.
Pasalnya setelah kecelakaan itu terjadi, semua harta kekayaan milik orang tua Zahra dan zahwa harus diambil paksa oleh tante mereka, adik dari Ibu Zahra dan Zahwa.
Semua nya berawal kebahagiaan sebuah keluarga yang tengah merencanakan untuk pergi berlibur sekeluarga. Ayah, ibu, Zahra Dan zahwa.
“hore .... liburan .... liburan .... “ sorak Zahra sambil melompat meneriaki kalau mereka akan pergi berlibur.
“ adek ... udah nanti jatoh lo, lompat - lompat gitu.. ucap Ibu dengan suara lembutnya menasehati sang anak agar tidak jatu. Pasalnya saat ini Zahra tengah melompat - lompat di atas meja makan.
“ udah, sayang. Ayo turun, kita mam lagi yuk. Ucap lembut sang ibu menuntun anak gadis nya menuruni meja makan itu.
“ kita perginya hari minggu, gax papa kan ? biar nanti ayah selesaikan dulu kerjaan ayah di kantor, ucap sang ayah yang memang niatnya hari ini mau berangkat kerja.
“ iya ayah, ucap Zahra dan Zahwa serempak.
Tidak lama mereka pun menyudahi sarapan pagi mereka. Dan dengan kompaknya Zahra, Zahwa dan Ibu mengantar ayah menuju mobil yang akan mengantarkan ayah mereka untuk pergi ke kantor.
Ayah adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan furniture. Saat ini ayah sudah memiliki banyak karyawan, yang salah satu dari karyawannya itu adalah suami dari adik sang istri namanya Abian
Karena memang merasa dekat, ayah meletakkan Abian di posisi yang memang sangat menjanjikan. Abian diposisikan oleh ayah bekerja di bagian keuangan, tepat nya menjadi meneger keuangan.
Banyak waktu yang mereka lalui,bahkan selama ini ayah tidak pernah merasakan kejanggalan apapun yang terjadi di perusahaannya, sampai pada saat itu, ayah bisa mendeteksi kalau Abian tengah melakukan korupsi di perusahaannya.
Ayah menyelesaikan masalahnya dengan cara baik - baik, bahkan tidak ada seorangpun yang tau akan kecurangan yang dilakukan oleh Abian. Semua itu ayah lakukan agar Abian tidak malu dan meresa di rugikan. Namun, semua nya ditanggapi lain oleh Abian. Abian malah menjadi marah pada ayah, dan langsung mengundurkan diri karena merasa di permalukan.
“ hah ... ayah hanya bisa menarik nafas panjang melihat sang adik ipar.
“ kau lihat saja nanti Danu, ku pastikan semua hartamu akan jatuh ditanganku. Kau telah mempermalukan Aku Danu. Ucap abian tertahan yang tengah menyimpan dendam terhadap Danu,
Ya ... Danu, itu lah nama Ayah Zahra dan ZAhwa.
Waktu berlalu begitu cepat, dan saat ini mereka tengan bersiap - siap untuk pergi liburan. Zahra dan zahwa tengah membantu sang ibu untuk packing baju - baju mereka sementara ayah sekarang sedang asyik mempersiapkan mobil buat mereka berangkat.
Singkat cerita, saat ini mereka sedang berada di dalam mobil yang sedang dikendarai oleh ayah. Ibu duduk di sebelah ayah, sementara Zahra dan Zahwa duduk dikursi belakang.
Mereka sangat bahagia dan antusias selama di perjalanan..
Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sebuah mobil truk yang meman sedang mengintai mereka.
Dan ....
Brrraaaak .....
Kecelakaan itu sudah tidak bisa di elak kan llagi. Mobil yang dikendarai oleh ayah terguling dan masuk ke dalam jurang. Namun ajaibnya, Zahra dan Zahwa malah terpentar keluar mobil dalam keadaan selamat.
Dwaaaarrrr ...
Mobil itu meledak tanpa menyisakan satu orang pun yang ada di dalammya.
“ AYAAAAAH, IBUUUU. ‘ Hikksss... hiksss.. hikkks
Tangisan pilu itu menggema dijalanan. Tangisan dua orang anak gadis dibawah umur yang harus ditinggal oleh kedua orang tua nya..
Hikkk.... hiiikkkhss...... hikkkks.... aaaaaaaaaa
Tangis pilu itu kembali pecah saat api ang menggepul itu tidak kunjung padam
“ sudah ya, nduk... yang sabar... “ ucap seorang nenek yang dengan kasih sayangnya memeluk Zahra dan Zahwa.
“ Ayah dan Ibu sudah pergi nek,, kami dengan siapa.” Zahwa yang masih dengan deraian air matanya malah berucap diluar kendali nya. Kenapa dia harus tanya itu, sementara ada om dan tante mereka di rumah.
“ rumah mu dimana sayang ? nenek antar kamu pulang ya ? ucap sang nenek dengan lembutnya.
“ kami gax mau pulang nek, tante Olin jahat “ ucap Zahra dengan ke terus terangannya.
“ lalu kalian mau tinggal di mana ? tanya sang nenek, namu Zahra dan Zahwa hanya tertunduk diam .
Kalian tau, pada saat kecelakaan terjadi tidak ada satu orang pun yang membantu keluarga kecil itu. Mereka sekarang sedang berada di pesawangan, tanpa adanya rumah penduduk di sana. Tapi yang mengherankan kenapa tidak ada satu mobil pun yang berlalu lalang disana..
Singkat cerita, saat ini Zahra dan Zahwa tengah berada di rumah nenek. Rumah sederhana yang memang hanya dihuni oleh nenek saja.
Ya ... nenek hidup sebatang kara disini.
Hari demi hari berlalu, namun disuatu malam Zahra yang tengah tidur merasa tidak tenang. Zahra gelisah dalam tidurnya.
“ KAK ... sepatu aku mana ?
Mimpi itu kembali datang, sudah beberapa kali mimpi itu datang menemani tidur Zahra. Nafas nya sesak, keringat dinginnya membasahi dahi kecilnya.
“ Zahra .... bangun. Nenek mengusap pipi Zahra lebur untuk memnbangunkan sang anak, namun Zahra tak kunjung bangun dan malah semakin gelisah karna mimpi nya..
“ zahra .. bangun, sayang.. ini nenek nak. Kamu aman sama nenek..
“ Aaaaaa .. Zahra bangun dari tidurnya dengan napas yang tersenggal - senggal dan peluh yang masih memenuhi dahi nya.
“ Zahra Mimpi apa, Nak ? ucap nenek sambil mengusap tulus dahi Zahra.
“ sepatu zahra hilang, nek !
“ ya Sudah,, kan cuma mimpi sayang. Zahra tidur lagi ya.. !ucap sang nenek sambil mengelus pipi zahra sementara Zahwa hanya memperhatikan interaksi dua orang beda generasi itu.
Zahra menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah si nenek.
“ gax nek, sebelum kecelakaan dan kami kehilangan ayah dan ibu, beberapa kali zahra juga mimpi seperti ini, nek. Kenapa ya nek ??? tanya gadis itu sambil memperhatikan lekat wajah sang nenek.
“ apa mimpi ini sebuah pertanda ?firasat seorang anak yang akan kehilangan orang tua nya? Tapi mimpi itu terulang lagi, pertanda apa sebenarnya. Monolog nenek di hatinya sambil tersenyum mengarah kepada Zahra dan Zahwa meskipun ada ketegangan di hatinya.
“ Nek, besok antar kami pulang ya nek. Aku gax mau kalau nanti tante jahat menguasai harta ayah kalau kami tidak ada di rumah.
Ucap Zahwa yang membuat mata nenek membola.
“ baik lah, nak. Besok nenek antar kalian pulang. Nenek takut mimpi adek mu akan jadi kenyataan. Kemaren kalian kehilangan orang tua kalian, nenek juga gax mau kalian akan kehilangan hak kalian juga.
Ucap sang nenek tulus sambil mengelus rambut harus kedua cucunya itu yang baru dia kenal beberapa hari yang lalu..
Bersambung ......
Komentar
Posting Komentar